Penelitian baru menyebutkan bahwa anak-anak dari Jepang unggul dalam keterampilan berhitung dan melek huruf. Hebat, ya?

Apa yang membuat pendekatan sistem pendidikan Jepang, termasuk sekolah-sekolahnya begitu unik dan berbeda dari negara-negara lain di dunia, dan yang lebih penting, apa yang bisa kita pelajari darinya?

Rupanya, hal ini karena mengajar di Jepang adalah tentang kualitas pelajaran, bukan kuantitas. Di Jepang, sekolah dipandang sebagai batu loncatan penting dalam kehidupan.

Setiap kemajuan teknologi dan inovasi baru yang tercipta dari Jepang dimulai dari bagaimana para siswa mamahami pelajaran dan pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah. Itulah mengapa anak-anak bersekolah selama 210 hari sekolah di sana.

Kelas di sekolah Jepang dimulai dengan kebiasaan aisatsu atau salam kepada guru dan diikuti dengan pertanyaannya apakah siswa tahu cara menyelesaikan soal yang sebelumnya dia pasang di papan tulis.

Kebiasaan-kebiasaan yang tidak dilakukan di negara lain inilah yang membuat siswa-siswa di Jepang nampak sangat displin dan menguasai banyak mata pelajaran.

Meskipun ada banyak kesamaan antara sistem pendidikan Jepang dan sistem pendidikan di negara lain, ada beberapa aspek yang membuat sistem ini menjadi salah satu yang paling efektif di dunia.

Jepang memberikan sistem pendidikan terbaik dengan segenap para tenaga profesional yang membantu dan turut mengawasi masing-masing siswa.

Mengutip dari laman Bright Side, Jum’at (12/08/2022) berikut tujuh rahasia sistem pendidikan di Jepang yang membuat anak-anak sukses:

1. Tidur di Kelas adalah Tanda Kesungguhan

Di Jepang, tertidur selama kelas bisa menjadi pemandangan umum. Hal ini karena semua karena sekolah memiliki jadwal yang sangat menuntut.

Berbeda dengan negara lain, di mana tidur di kelas mungkin dipandang sebagai tanda tidak hormat atau kemalasan, di Jepang, hal ini dipandang sebagai tanda dedikasi.

Banyak dari siswa yang tidak sempat melakukan istirahat yang cukup di rumah sehingga mereka menghabiskan waktu istirahat mereka di sekolah. Teman sekelas dan guru juga tidak akan menegur siapa pun yang ketiduran di dalam kelas.

2. Tidak Mengikuti Ujian sampai Kelas Empat

Jika kalian menganggap semakin baiknya sistem pendidikan pada suatu negara maka akan makin banyak ujian yang dilakukan, nampaknya kalian salah.

Ini mungkin tampak aneh, tetapi sekolah-sekolah Jepang mengutamakan sopan santun sebelum pengetahuan.

Tujuan mereka selama tiga tahun pertama adalah untuk mengembangkan karakter anak-anak mereka dan membangun perilaku yang baik, bukan menilai pengetahuan mereka.

Mereka belajar bagaimana menjadi murah hati, empati, dan penuh kasih sayang. Para siswa di Jepang juga diajarkan untuk menghormati orang lain dan mengembangkan ikatan yang lembut dengan alam dan hewan.

3. Anak-anak Membersihkan Sekolah Sendiri

Sementara sekolah-sekolah di seluruh dunia mempekerjakan petugas kebersihan dan penjaga sekolah untuk menjaga kerapian sekolah, tidak demikian halnya di Jepang.

Para siswa di sekolah Jepang bertanggung jawab atas kebersihan ruang kelas, kafetaria, dan bahkan toilet.

Sistem pendidikan Jepang percaya bahwa membersihkan bersama mengajarkan para siswa untuk saling membantu dan bekerja dalam tim.

Dengan menghabiskan waktu mereka untuk mengelap meja, menyapu, dan mengepel lantai, para siswa belajar untuk menghargai pekerjaan mereka sendiri dan pekerjaan orang lain.

4. Siswa Makan di Ruang Kelas dengan Guru Mereka

Di negara lain, melihat guru makan bersama dengan murid-muridnya bisa jadi merupakan suatu hal yang tidak mungkin. Lain halnya dengan di Jepang, norma ini dianggap membantu membangun ikatan positif antara murid dan guru.

Saat makan, percakapan yang sangat berguna dapat terjadi yang dapat membantu dalam membangun suasana kekeluargaan.

Selain itu, sistem pendidikan Jepang juga memastikan para siswa makan makanan yang sehat dan seimbang.

Jadi, di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama negeri, makan siang dimasak sesuai dengan menu standar yang dikembangkan oleh para profesional kesehatan dan koki yang berkualitas.

5. Menghadiri Pameran setelah Jam Sekolah

Pelatihan atau pameran setelah sekolah atau sekolah persiapan sangat populer di Jepang. Di sana, siswa dapat mempelajari hal-hal baru selain dari 6 jam sekolah mereka.

Kelas-kelas diadakan di malam hari, dan sebagian besar siswa Jepang menghadiri kelas-kelas tersebut agar mereka bisa masuk ke sekolah menengah pertama yang bagus.

Dan, tidak seperti banyak siswa di seluruh dunia, orang Jepang belajar bahkan selama akhir pekan dan pada hari libur.

6. Siswa Jepang Belajar Puisi dan Kaligrafi Jepang

Kaligrafi Jepang, juga disebut Shodo, adalah bentuk seni di mana orang menulis karakter kanji yang bermakna karakter Cina yang digunakan dalam sistem penulisan Jepang dengan cara yang ekspresif dan kreatif.

Haiku, di sisi lain, adalah bentuk puisi di mana frasa sederhana digunakan untuk menyampaikan emosi yang mendalam kepada pembaca. Bentuk puisi ini dianggap memiliki efek intelektual, terapi, dan estetika.

Kedua kelas ini mengajarkan anak-anak untuk menghormati tradisi mereka yang sudah berusia seabad dan menghargai budaya mereka.

7. Sekolah-Sekolah Jepang menggunakan Cat Tanpa Nama

Cat tanpa nama digunakan untuk menggantikan nama-nama warna yang sudah dikenal dengan penggambaran visual yang biasanya hanya warna-warna primer.

Untuk menciptakan nuansa tambahan warna oranye, hijau, atau biru, suatu penggambaran visual juga mengandalkan proporsi yang menggambarkan lebih banyak atau lebih sedikit warna yang berbeda.

Persamaan pada cat membantu anak-anak memahami beberapa konsep dasar teori warna dan mengajarkan mereka cara mengombinasikan dan menciptakan warna baru dengan cara yang menyenangkan.

Baca Juga :

BI Luncurkan Buku Laporan Nusantara dan Buku Kajian Manufaktur dan Pariwisata, Apa Isinya?