Indonesia International Book Fair (IIBF) 2022 digelar Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) secara luring di JCC, Jakarta. Acara ini mengemban misi untuk membangkitkan kembali minat baca di Indonesia.

“Kita percaya minat baca ujungnya pada literasi,” ujar Arys Hilman, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Selasa, 8 November 2022.

Menurut Arys, literasi adalah kemampuan masyarakat untuk memahami informasi secara kritis sehingga informasi yang bermanfaat saja yang diserap oleh masyarakat. Informasi tersebut dapat berguna untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat. “Dengan membaca, maka kita terbukti literasinya bagus,” ujar Arys.

Arys berharap masyarakat lebih terpanggil untuk menggemari buku. Tidak hanya sekadar mengoleksi, tetapi lebih gemar membaca. “Karena kalau sekadar bukunya bagus dan menarik, kalau tidak ada pembacanya maka akan menjadi persoalan,” ujar Arys.

Mengingat saat ini masih pandemi, pameran buku tahunan itu kali ini digelar secara hybrid. Namun, Arys lebih menganjurkan pengunjung datang langsung ke pameran.

Tidak hanya pameran buku saja, terdapat beberapa acara lain untuk memeriahkan IIBF, seperti lomba mewarnai untuk anak-anak, diskusi buku dengan penulis, dan acara cosplay. “Biasanya ada juga penampilan dongeng dari beberapa penerbit kita,” ujar Arys.

Tahun ini, panitia menghadirkan penulis asal Korea Selatan, Ashley Kim dan Eje Kim. Keduanya akan mengisi diskusi buku sekaligus meluncurkan karya terbaru berjudul The Geography of Dream.

Zona Kalap

Pengunjung IIBF 2022 diminta membeli tiket secara daring di Loket.com maupun datang langsung ke Hall B, Jakarta Convention Center. Tiket tersebut tersedia gratis. Pengunjung dewasa diminta sudah divaksin dosis ketiga dan memindai barcode PeduliLindungi di pintu masuk. Pameran buku ini berlangsung dari 9 November hingga 13 November, pukul 9.00-21.00 WIB.

Salah satu daya tarik yang disiapkan untuk pengunjung adalah Zona Kalap. Pengunjung dapat menikmati diskon besar-besaran hingga 90 persen untuk segala jenis buku, baik buku dalam bahasa asing maupun bahasa Indonesia dengan harga miring. Walaupun diskon, buku yang dijual pun tergolong buku baru.

“Biasanya buku-buku yang paling banyak diminati yaitu buku-buku anak, religi, dan fiksi,” tutur Arys. Sementara, pengunjung yang berada di luar Jakarta bisa ikut berpartisipasi dalam pameran dengan berbelanja melalui Shopee.

Arys berharap dengan melandainya kondisi Covid-19, menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali mengunjungi pameran buku maupun kegiatan literasi lainnya, untuk memancing minat baca pada anak-anak dan menghindari buku bacaan ilegal. Di samping, penyelenggaraan pameran juga bisa membangun suasana perbukuan di Indonesia.

Perpustakaan Desa

Penyelenggaraan IIBF 2022 itu didukung Kementerian Desa. Hal ini sejalan dengan program Kementerian Desa untuk mengembangkan perpustakaan di desa-desa.

“Ini penting, karena memang literasi terkait tingkat melek huruf di kita (Indonesia) sudah bagus. Literasi terkait dengan akses terhadap bahan bacaan yang belum (bagus),” ujar Arys.

Arys berpendapat pembinaan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia pun dikatakan masih belum baik. Pembinaan kebiasaan membaca dapat tercapai jika memiliki akses terhadap bahan bacaan yang baik pula.

Dengan masalah tersebut, Kementerian Desa memiliki program untuk menyalurkan buku-buku yang hanya ada di kota-kota besar, supaya dapat dikonsumsi pula oleh masyarakat daerah. Aktivitas tersebut dapat melalui literasi, pengadaan perpustakaan, dan taman bacaan di desa-desa.

“Contoh, di Maluku. Desa yang memiliki perpustakaan yang baik menunjukkan kapasitas sumber daya manusia yang baik pula,” tutur Arys.

“Sudah saatnya kita mulai memberikan waktu dan uang kita untuk membeli buku karena buku sumber pengetahuan utama untuk membuat masyarakat menjadi literat,” imbuh Arys.

Sejarah IIBF

Indonesia International Book Fair, pameran buku berskala internasional ini hadir di Indonesia sejak 1980. Awalnya, pameran buku ini belum berkonsep internasional. Mulai 2014, IKAPI mengubah konsep pameran buku menjadi skala internasional.

“Karena Indonesia mulai diperhatikan oleh pasar buku internasional dan menjadi guest of honor di Frankfurt Book Fair pada tahun 2015, jadi kita bersiap-siap, jangan sampai di pameran buku internasional tetapi di dalam tidak mengundang peserta secara internasional,” ujar Arys.

Tidak hanya itu, Indonesia menjadi Market Focus Country pada 2019 secara besar-besaran di Frankfurt, Jerman. Hal ini berarti buku-buku Indonesia mulai dilirik oleh masyarakat-masyarakat mancanegara dan mulai diterjemahkan dalam bahasa asing.

“Prinsip kami, kami boleh memikat di luar negeri tetapi, kami juga harus memukau di dalam negeri,” ujar Arys.

Situasi pandemi Covid-19 dua tahun lalu membuat panitia harus beradaptasi. Mereka memindahkan penyelenggaraan pameran yang biasa berlangsung secara luring ke format daring.

Baca Juga : Pameran Buku Internasional Digelar di Jakarta, Siapkan Zona Kalap dan Undang Penulis Korea