Negara matahari terbit ini fokus terhadap pendidikannya bahkan bayi berusia enam (6) bulan diberikannya pendidikan formal maka pentingnya pendidikan usia dini.Itulah sebabnya negara  tersebut terkenal memiliki disiplin tinggi. Dikarenakan pembentukan karakter telah dimulai dari sejak dini.

Maka dari itu, negara matahari terbit ini memiliki sistem pendidikan usia dini yang menarik untuk dipelajari . Bahkan negara lain yang masih berkembang harus mencontohnya agar bisa menciptakan SDM kreatif,cerdas, serta memiliki disiplin tinggi. Dikarenakan SDM berkualitas merupakan aset.

Baca Juga : 6 Universitas Terbaik di Jepang, Tak Main-main Standarnya!

Sekilas Mengenai Pendidikan Usia Dini di Jepang

Terkait pendidikan untuk anak usia dini di negara sakura tersebut mengenal dua istilah yaitu youchien dan hoikuen. Kedua istilah tersebut merupakan anak yang diberikan sistem pendidikan dari sejak dini di Jepang. Perbedaannya terletak berdasarkan usianya yang berkisar dari 6 bulan telah diberikan pendidikan formal.

Jika taman kanak-kanak dikenal di Indonesia untuk usia 4 hingga 5 tahun, di Jepang mengenal istilah youchien. Keduanya sama-sama dikhususkan sebagai pendidikan anak-anak berusia 4 hingga 5 tahun. Sistem pengajaran untuk anak usia dengan usia tersebut, diberikan materi pembekalan sebagai persiapan masuk Sekolah Dasar.

Berbeda dengan youchien, sistem pendidikan usia dini di negara sakura ini mengenal istilah hoikuen. Sistem pendidikan ini dititikberatkan pada pengasuhan. Adanya sistem pendidikan tersebut untuk membantu para wanita bekerja menitipkan anaknya di bawah pola pengasuhan baik dengan ruang lingkup pendidikan, bahkan pemberian nutrisi untuk anak tidak luput dari perhatian.

Pendidikan karakter sejak dini diterapkan pada youchien maupun Hoikuen. Generasi unggul dapat diciptakan dengan pembentukan karakter sejak usia dini agar bermanfaat untuk kemajuan negara matahari terbit ini. Terlebih negara tersebut mengalami krisis pertumbuhan penduduk, sehingga bibit generasi penerus harus dikelola dengan benar-benar matang.

5 Keunikan Pendidikan Usia Dini di Jepang

Pada dasarnya sistem pendidikan di semua negara sama, yaitu sama-sama bertujuan untuk membentuk generasi unggul. Hanya bedanya, karakter sejak dini telah dibentuk melalui sistem pendidikan di negara matahari terbit ini. Hal tersebut merupakan salah satu sistem pendidikan untuk anak usia dini yang unik di Jepang. Beberapa keunikannya yang lain sebagai berikut.

1. Pembentukan Moral

Anak-anak diberikan materi dari sejak dini meliputi cara membentuk moral. Uniknya sistem tersebut sehingga layak ditiru. Sementara sistem pendidikan pada umumnya, siswa harus dituntut untuk bisa calistung.Berbeda dengan Jepang, mengesampingkan skill d, sehingga tidak dituntut bersaing secara akademik pada usia tersebut.

2. Kreativitas Diprioritaskan

Negara matahari terbit ini memiliki sistem pendidikan untuk anak usia dini dengan kreativitas diprioritaskan untuk anak-anak. Maka dari itu lebih banyak diberikan materi seni, menggambar, bernyanyi sehingga kreativitasnya semakin terasah. Berbagai hiburan untuk mengembangkan kreativitasnya dan kemampuan nalarnya dibekali untuk pada usia tersebut.

3. Guru Bersikap Sebagai Teman

Sedikit berbeda dengan negara lain yang menjadikan guru sebagai seseorang yang disegani. Jepang mengharuskan seorang guru untuk anak usia dini berperilaku sebagai teman agar anak-anak lebih ekspresif dan terbuka pada gurunya sehingga guru mampu memberikan solusi pada anak-anak tersebut. Dengan demikian, tidak akan depresi pada anak-anak. .

4. Sekolah di Jepang Berkualitas Sama untuk Semua Wilayah

Dikarenakan anak telah dilatih mandiri sejak kecil, sehingga harus bisa berangkat dan pulang ke sekolah sendiri. Dengan demikian, memungkinkan siswa belajar di sekolah terdekat. Itulah sebabnya tidak ada sekolah favorit di negara sakura tersebut. Semua sekolah memiliki kualitas yang sama agar bisa mendaftar di sekolah dekat rumah.

5. Rumah adalah Dasar Utama Pendidikan

Pendidikan tidak harus diemban di sekolah, bahkan rumah menjadi awal mula pendidikan tersebut dimulai. Sang ibu harus mengajarkan cara makan sendiri dengan membuat makanan lucu, serta perlahan harus mengajarkan kemandirian anak dengan mengajarkannya membuat makanan sendiri secara bertahap agar anak terbiasa untuk dilatih mandiri.

Berdasarkan keunikan tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa sistem pendidikan yang diterapkan untuk anak usia dini tersebut, tidak sekeras dan otoriter yang diasumsikan banyak orang. Mengingat banyak pihak berasumsi, bahwa disiplinnya orang Jepang berdasarkan pengaruh dari sistem pendidikannya.

Karakteristik Pendidikan Usia Dini

Dilihat dari materi pembelajarannya, pendidikan untuk anak usia dini di Jepang lebih mengutamakan pada pembentukan karakter, sosialisasi serta kesehatan jasmani anak-anak. Meskipun diberikan materi calistung namun tidak lebih difokuskan pada hal tersebut. Karakteristik dari sistem pendidikannya lebih mengedepankan pembentukan karakter.

Negara tersebut menilai bahwa anak-anak usia dini harus diberikan pendidikan mental agar memiliki kesiapan untuk menjalani kehidupannya karena mereka berasumsi bahwa mental yang kuat adalah dasar dari karakter yang baik. Dengan demikian, anak-anak usia dini tersebut tidak dipaksakan untuk bisa calistung karena akan menambah beban pikiran mereka.

Apabila si kecil dibebani pikiran yang berat sejak dini akan membuat mereka stres, mudah lelah, dan akhirnya sakit. Itulah mengapa karakteristik pendidikan untuk anak usia dini di negara sakura ini banyak mengarah ke seni dan membangun karakter anak agar lebih ceria. Jikapun dituntut untuk belajar, namun tidak dipaksa.

Dengan karakteristik pendidikan untuk anak usia dini tersebut, terbilang unik dengan konsep pembelajaran pada umumnya. Skill yang baik harus dimiliki oleh siswa yang mengemban pendidikan formal di sekolah. Maka dari itu, harus menguasai berbagai skill yang diajarkan di sekolah. Karakteristik tersebut berbeda dengan sistem pendidikan pada umumnya, Jepang memiliki ciri khas sedikit mengasah skill dan memperbanyak mengasah kreativitas.

Konsep PAUD di Negara Sakura

Telah disinggung sebelumnya, bahwa Jepang mengutamakan pembentukan karakter anak, sehingga diciptakannya sebuah konsep pendidikan usia dini yaitu meminimalisir anak dituntut skillnya. Mengasah skill akan diberikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Dengan demikian, anak fokus agar karakternya dibuat lebih ceria. Seperti menggambar, bernyanyi, dan juga mengunjungi tempat wisata.

Tempat wisata yang dikunjungi akan mengembangkan learning by doing dalam pembelajaran agar bisa belajar dengan menyenangkan. Dengan demikian akan membuat mereka lebih mudah menangkap pelajaran dan juga bersosialisasi. Dengan demikian, anak tidak stres yang dapat merusak perkembangan mentalnya.

Kesehatan mental dan jasmani diutamakan sebagai pendidikan usia dini untuk konsepnya di negara matahari terbit tersebut agar belajar namun tetap ceria. Dengan kesehatan mental yang baik akan menunjang kesehatan jasmani juga menunjang kemampuannya untuk bersosialisasi. Dengan demikian, bisa membentuk karakter anak-anak yang sehat secara keseluruhan.

Sistem pendidikan usia dini di negara sakura ini berdasarkan konsep para ahli yang menilai tumbuh kembang anak usia dini. Para ahli tersebut adalah Muto, Saito Kimiko, serta pemerhati perkembangan anak-anak dari Ochanomizu University. Ketiga pakar tersebut mengembangkan konsep sama yaitu untuk memberikan pendidikan yang lebih fokus pada kesehatan jasmani.

Negara sakura yang terkenal akan disiplinnya, ternyata tidak membuat peraturan yang keras dalam untuk anak berusia dini dalam menempuh pendidikan formal. Tetapi justru membuat anak-anak tersebut tetap ceria agar mampu menyerap semua mata pelajaran dengan baik, serta karakternya dibentuk lebih baik, sehingga pentingnya pendidikan anak usia dini.